Tampilkan postingan dengan label Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Tantangan Menjadi Guru Fisika !

6/05/2016 08:45:00 PM 9

Kalo ditanya guru apa yang paling menantang untuk dijalanin? Jawaban dari pertanyaan itu mudah untuk dijawab, karena jawabannya adalah Fisika. Kenapa? Karena fisika adalah mata pelajaran yang paling tidak disukai oleh para siswa di sekolah. 


Ini adalah tantangan berat bagi guru fisika dimanapun. Termasuk saya. Bukan mengecilkan hati, tapi ini kenyataan. Mengingat di lapangan banyak sekali siswa yang kesusahan dengan fisika.

Mengapa fisika begitu menantang? Baik, saya akan coba jabarkan versi saya. Ketika saya menjadi guru fisika, tantangan yang dihadapi adalah bahwa siswa/i tidak suka dengan cara berfikir fisika yang dianggapnya rumit dan sulit, bahkan mengada-ada. 

Misal, dalam soal fisika ada 2 buah mobil bertabrakan, biasanya akan ditanyakan berapa kecepatan mobil dan berapa momentumnya? Bagi mereka hal itu kurang penting dan tidak bermanfaat. Mereka menilai bahwa jika ada tabrakan,yang harus dilakukan ya ditolongin. Tapi yang jadi permasalahan adalah bukan momentum dan kecepatannya, tapi fisika lebih pada melatih dan membentuk pola pikir yang baik dari kasus yang dihadapi. 

Fisika mengajarkan bagaimana menganalisis dan menyelesaikan masalah.

Ada hal lain ketika fisika sudah disadingkan dengan matematika. Konsep yang sederhana akan menjadi tterlihat menjadi rumut. Dan itulah titik lemah fisika yang dipandang siswa sebagai hal yang susah untuk dipelajari. 

Tapi itulah fisika. Fisika sangat bisa disederhanakan karena memeng sejatinya fisika itu memang sangat sederhana.

Disaat ada siswa mengeluh tentang susahnya fisika, sampai dia berkata " Pak, apasih manfaatnya fisika? Ribet". Saya hanya bisa tersenyum dan mengajukan pertanyaan balik " Coba kalian sebutkan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang tidak berfisika?". 

Mereka menyebut satu persatu dan saya coba jawab pertanyaan mereka satu persatu. Saya mengatakan ilmu fisika itu sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ilmu fisika, mungkin sekarang tidak ada iPhone dll. Maka dengen memberikan penekanan bahwa fisika itu sangat bermanfaat, akan membuat siswa menjadi lebih terbuka dengan fisika.


Quaote : " Fisika bukanlah ilmu yang mempelajari angka-angka, tapi mempelajari kehidupan "

Senin, 30 Mei 2016

Menjadi Guru yang Bersahabat

5/30/2016 04:54:00 PM 4
Saya memilih profesi guru karena kecintaan pada dunia pendidikan. Karena lewat dunia itu saya pun akhirnya bisa bertemu dengan dunia blogging yang sama-sama menyenangkan untuk dikerjakan. Kerena lewat pendidikan jugalah nasib suatu bangsa ditentukan. 


Saat memutuskan untuk menjadi guru memang bukan mengambil keputusan yang gampang, sebab saat ini guru dianggap pekerjaan yang bukan 'main-main' namun penghasilannya 'main-main'. Beda dengan artis yang bekerja 'main-main ' tapi berpenghasilan bukan main. Cita-cita saya dulu tinggi. Inggin bekerja di perusahaan bonafit dan menghasilkan banyak uang. 

Tapi prinsip itu kemudian lahir : Uang bukan segala-galanya.

Saya mengawali profesi sebagai guru pada tahun 2008 silam. Saat itu saya diterima di sebuah bimbingan belajar ternama di kota Bandung. Awalnya sebagai batu loncatan, sambil menunggu panggilan lamaran di Jakarta.

Namun seiring waktu, ada kenikmatan tersendiri menjadi seorang guru. Walau harus bertemu dengan siswa nakal, tidak menghargai bahkan kurang ajar, tapi kenikmatan sesungguhnya dari seorang guru adalah menjabat pekerjaan termulia kedua setelah nabi. Guru mengajarkan banyak hal pada saya saat itu bahkan sampai sekarang.

Saya sangat menikmati kepuasan dalam mengajar jika ilmu yang saya sampaikan bisa mereka tangkap dan dipelajari dengan baik, dengan antusias mereka bertanya dan saya menjawab apa yang ada diisi kepala mereka. Itulah kepuasan yang tidak diperoleh dari pekerjaan manapun.

Menjadi guru memang pekerjaan yang penuh tantangan. Tantangan terbesar nya adalah saat pekerjaan lain dituntut mengolah data, maka menjadi guru adalah pekerjaan yang dituntut untuk mengolah manusia.  Mengolah manusia adalah bukan perkara yang mudah. Perlu urat sabar yang tebal dan mental yang tahan banting. Namun semuanya perlu memakai hati. Jika salah mengajari maka rusaklah sebuah generasi.

Proses belajar tidak saya maknai hanya berada diluar kelas semata. Pendidikan bukanlah hal kaku yang membelenggu isi pikiran mereka. Pendidikan hendaknya membebaskan pikiran mereka, sehingga mereka memiliki kebebasan berpikir yang baik dalam memecahkan apapun.

Bebas untuk beraktualisasi. Bebas menemukan passion mereka. Sehingga jati diri mereka bisa diisi kemualian dan kebaikan.



Pada Juli 2010, saya akhirnya diterima di salah satu sekolah elit di Kota Bandung. SMA Taruna Bakti. Mengajar di sekolah tentunya sangat berbeda mengajar di bimbingan belajar. Saat mengajar di sekolah kita di tuntut untuk menjadi guru yang tegas sekaligus bersahabat. Tidak mudah memang harus seperti itu. 

Tegas tidak sama dengan galak. Tegas adalah sebuah cara dalam mendidik dengan menilai sesuatu secara objektif. Jika mereka salah akan saya tegur dan nasehati. Jika mereka baik, akan saya hargai dengan sebaik-baiknya.


Untuk menjadi guru yang bersahabat saya selalu menerapkan semboyan Ki Hajar Dewantara. Ingarso Suntulodo, ing madya mangun karso dan Tut wuri handayani. Semboyan tersebut selalu menjadi penguat saya untuk selalu menjadi guru yang baik bagi mereka. 

Ing Ngarso Suntulodo

Menjadi guru adalah pemimpin di ruangan kelas. Sebagai seorang pemimpin, hendaknya seorang guru memberi contoh sauri tauladan yang baik untuk murod-muridnya. Guru harus bisa menjadi contoh yang baik, karena hakekatnya pendidikan adalah kegiatan mencontoh sesuatu. Jika tidak bisa menjadi contoh yang baik, maka murid akan kehilangan arah dalam belajar dan mengambil rti dalam belajar.

Ing Madya Mangun Karso

Dari slogan ini, guru hendaknya bisa memberikan semangat yang berlebih untuk para siswanya. Motivasi dari seorang guru, akan sangat berharga jika motivasi itu disampaikan dengan betul.

Tut wuri handayani

Semboyan terakhir ini seolah menjadi pembakar semboyan sebelumnya. Guru harus bisa menjadi pendorong untuk kemajuan siswa. Menjadi sauri tauladan saja tidak cukup. Menjadi penyemangat saja tidak cukup. Yang melengkapi itu semua adalah guru harus bisa menjadi pendorong semangat dan teladan yang baik bagi siswanya.

Dari ketiga slogan tersebut, saya kemudian membuat versi, bagaimana menjadi guru yang bersahabat dengan siswanya. Oke! hal-hal dibawah ini yang bisa saya uraikan versi saya.

1. Bisa masuk ke dunia mereka

Salah satu yang bisa saya lakukan untuk bisa bersahabat dengan siswa-siswa saya adalah menyelami dunia mereka. Ini bukan berarti kita harus menjadi sosok yang segala tahu atau sok tahu. Yang harus dilakukan adalah mengenali dan sering berdiskusi dengan mereka. Semisal, Jika saat ini sedang booming Band Barasuara, maka setidaknya kita bisa tahu lagunya dan menshare apa yang  kita tahu dan bertanya apa yang tidk kita tahu.

2. Menghargai setiap passion mereka

Bagi saya nilai akademis bukan segalanya. Nilai bisa dicari lewat usaha belajar. Tapi passion mereka didapatkan bukan dari belajar, tapi harus mencintai apa yang mereka kuasai. Misal, jika ada anak yang urang dipelajaran saya, maka pada saat itu saya tidak menjudge dia sebagai siswa yang bodoh.  Saya akan cari passionnya dimana. Jika passionnya di musik, maka akan saya dorong dan beri semangat untuk mempelajari musuk sampai keakar-akarnya. Bila perlu memberi apresiasi padanya.

3. Tidak menyempitkan pemikirannya

Guru bukanlah makhluk paling pintar di dunia ini. Maka tak seharusnya guru menyempitkan pikiran setiap siswa yang dia ajar. Siswa harus diberikan kebebasan berpikir untuk memecahkan setiap masalah. Jika pada ahkirnya salah, maka tugas gurulah untuk membenarkannya.

4. Bertindak ramah dan baik

Ramah dan menyenangkan itulah yang sangat disukai siswa. Dengan keramahan kita sebagi guru, maka siswa akan merasa nyaman dan bisa terbuka pikirannya dengan sang guru. Tak ada batas pemikiran antara guru dan murid, karena seyogyanya guru juga adalah insan pembelajar yang terus belajar.

5. Tidak menghakimi untuk setiap kesalahan. Pebaiki !

Setiap kesalahan siswa bukan jalan untuk menghakimi. Bagi saya kesalahan setiap siswa menjadi tanggung jawab guru untuk lebih membimbing dan mengarahkan kearah yang lebih baik.

Itulah share mengenai guru yang saya peroleh dari pengalaman. Semoga kekurangannya bisa dicermati. Bila perlu dikritisi. 

Kamis, 12 Mei 2016

Mengajar adalah Sebuah Seni, Bukan Kegiatan Mengolah Akal

5/12/2016 01:00:00 AM 3

Ketika saya memutuskan menjadi seorang guru, maka tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana menjadikan siswa/i yang saya ajar mampu mengerjakan dengan tuntas dan sebaik mungkin. Dulu saya berprinsip bahwa mengajar adalah kegiatan yang harus dijabarkan dalam bentuk baku dan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Ketika saya menerapkan itu, maka yang ada adalah mengajar seperti dikejar-kejar kereta api. Pusing di saya, pusing juga di siswa.

Jika dirunut dengan cermat, banyak sekali definisi mengajar menurut ahli. Menurut Sardiman (2003:45): Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan , mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.

Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Karenanya belajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya. 

Menurut Raka Joni (dalam Sardiman , 2003:54) : Mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengerahkan kegiatan belajar anak didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi. 

Definisi-definisi diatas sepenuhnya membuat saya semakin bingung dalam mengembangkan teknik mengajar dikelas. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah filosopi-filosopi dalam mengajar. Yang saya pahami benar adalah bahwa mengajar adalah sebuah seni, bukan kegiatan mengolah akal. Mengajar haruslah mengalir seperti air yang jernih dan mengalirnya ketempat yang tepat. Mengapa mengajar adalah sebuah seni, karena mengajar itu harus dinikmati dan menikmati secara total. Mengajar harus bisa seperti entertainment. Menarik dan tidak membosankan. 

Siswa akan senang bila sang guru memberikan kebebasan berfikir secara mendalam. Guru tidak mendikte. Siswa diberi keleluasaan untuk meng-explore kemamampuannya sehingga mereka bisa menunjukan eksistensinya. Mengajar harus menggali potensi siswa secara baik. Tidak seremonial bahkan basa-basi saja. 

Jika mengajar adalah kegiatan mengolah akal, maka yang didapat adalah guru makin pusing dengan kegiatannya, begitupun siswa merasa puyeng dengan apa yang mereka tangkap dari sang guru. Ini fakta yang sering terjadi. Banyak siswa yang menganggap sekolah adalah penjara karena yang dikejar oleh guru dan sekolah adalah nilai dan nilai. Belajar bukan sebuah hal yang menarik lagi, karena yang mereka terima adalah berkenaan dengan akal yang dimanipulasi. Angka-angka yang direkayasa dll.

Rabu, 13 Mei 2015

Menjadi Guru di Era Informatika

5/13/2015 12:30:00 AM 0

Bahwasanya menjadi guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mengajar dan mengajari anak manusia dengan penuh harapan agar anak manusia itu dapat menjadi orang yang berguna kelak. Ada perbedaan profesi lain dengan seorang guru. Jika akuntan, programer dan analis bekerja mengolah data, maka bekerja menjadi guru adalah mengolah manusia. Pekerjaan yang sangat luar biasa.

Sejak SMA tak ada niat saya untuk menjadi guru. Karena niat awal dalam cita-cita saya adalah menjadi pelawak. Ya! kenapa pelawak? karena pelawak waktu saya kecil adalah hal yang saya gandrungi.


Berbeda rasanya ketika saya menjadi murid dulu. Ketika zaman masih belum secanggih sekarang. Zaman ketika internet masih menjadi hal yang sangat mewah sekali. Zaman ketika mesin tik masih menjadi primadona. 

Sekarang!

Teknologi serba canggih. Jejaring sosial seolah menjadi sosok maha penting. Twitter, facebook, my spice dll. Hingga guru yang mengajarnya lebih penting dari sosok itu. Ah! positifkah itu? saya rasa sebagai guru itu postif-posif saja. Asal tidak berpengaruh pada psikologis dia dalam belajar. Artinya ada penyakit malas disana ataupun sikap tidak menghargai. Karena kecanggihan sekarang cenderung menjadikan pelajar menjadi "nakal". 

Ada sebuah petikan kalimat dari lirik lagu band Efek Rumah Kaca dalam lagunya yang berjudul kenakalan di era informatika, yakni " ketika birahi yang juara". Penggalan kalimat ini mengisyaratkan bahwa nafsu yang ada dibenak para remaja sekarang telah memperbudak dirinya sendiri.

Ini tantangan buat para guru dimanapun!